Plastik Sesudahnya, Indonesia Kini Juga Mengembalikan Limbah Kertas

Plastik Sesudahnya, Indonesia Kini Juga Mengembalikan Limbah Kertas. Kantor bea cukai di Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, diatur untuk mengirim kembali delapan kontainer kertas bekas dari Australia setelah menemukan mereka terkontaminasi dengan bahan beracun dan berbahaya.

Agen judi slot online – Kontainer 210.340 kilogram kertas bekas telah diimpor oleh PT MDI dan dibersihkan untuk keberangkatan dari pelabuhan Brisbane, kata Kepala Kantor Bea dan Cukai Tanjung Perak Basuki Suryanto, Selasa.

“Kami dengan cermat memeriksa barang-barang impor yang mencurigakan dan menemukan bahwa barang-barang itu terkontaminasi dengan limbah beracun,” tambahnya.

Kontainer telah dikirim oleh Oceanic Multitrading, yang ditambatkan di Surabaya pada 12 Juni. Dikatakan telah datang dengan lisensi dari Departemen Perdagangan, dokumen persetujuan impor dan laporan surveyor. Inspeksi di pelabuhan asal dilakukan oleh surveyor BUMN Indonesia, Sucofindo dan para mitranya, menurut Basuki.

Menurut pemeriksaan di Surabaya, kertas bekas judi slot online dicampur dengan berbagai jenis sampah, termasuk limbah domestik dan elektronik, minyak, botol plastik dan popok.

Basuki mengatakan pengiriman kembali akan dilakukan segera setelah proposal dari importir, MDI, diproses.

“Setelah ini selesai, limbah akan dikirim kembali ke negara asalnya,” kata Basuki.

Dia menambahkan bahwa kantornya saat ini sedang memeriksa 38 kontainer kertas limbah impor dari Amerika Serikat dan 20 kontainer lainnya dari Jerman.

Belum ada hasil pemeriksaan yang dirilis.

Menurut data kantor, 18 perusahaan mengimpor kertas limbah melalui Pelabuhan Tanjung Perak.

Seorang pejabat bea dan cukai di Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, memegang halaman depan harian Australia selama inspeksi pada hari Selasa. Kantor sedang bersiap untuk mengirim kembali wadah limbah kertas yang terkontaminasi ke negara asal mereka, Australia.

Mengimpor limbah yang terkontaminasi bahan beracun atau berbahaya lainnya melanggar Undang-Undang No. 32/2009 tentang lingkungan dan dapat dihukum dengan hukuman penjara empat hingga 12 tahun dan denda Rp4 miliar (US $ 282.874) hingga denda Rp12 miliar.

“Ini juga merupakan pelanggaran UU No. 18/2008 tentang pengelolaan sampah, yang memiliki hukuman yang sama,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *